Makna Dari Tumpeng Mini yang Jarang Diketahui

Nasi tumpeng, atau yang diketahui dengan istilah “tumpeng” saja, yakni sajian khas yang banyak ditemui dalam berjenis-jenis acara perayaan atau “selamatan” bagus di desa-desa ataupun di kota-kota besar di pulau Jawa dan pulau-pulau lain hingga kini. Apapun variasinya, seperti tumpeng mini jakarta menjadi ikon penting dalam acara syukuran atau selamatan dalam kebiasaan dan kebiasaan Jawa. Oleh sebab itu, tumpeng menjadi suatu simbol yang sarat akan makna.

Sedangkan diakui sebagai komponen penting dalam sebuah acara selamatan, tapi sebetulnya tak banyak orang yang benar-benar paham makna di balik tumpeng. Tumpeng sendiri sebetulnya menjadi simbol yang mengangkat relasi antara manusia dengan Ilahi, dengan alam, dan dengan sesama manusia.

Tumpeng Mini Jakarta
Ilustrasi tumpeng mini pada umumnya

Tumpeng dalam Istiadat Jawa

01. Warga Jawa
Warga tradisional, pada umumnya memiliki suatu keyakinan. Keyakinan ini terjadwal pada energi yang melebihi energi maupun keahlian manusia. Warga yakin sekiranya di luar dirinya terdapat energi yang maha besar.

Tenaga itu memberi pengaruh pada cara keyakinan, sehingga dalam warga tradisonal menonjol terdapatnya cara keyakinan tradisional yang disangka memiliki energi gaib, serta keyakinan kepada roh orang yang telah wafat( nenek moyang).

Keyakinan semacam ini dalam ilmu Antropologi diucap keyakinan animisme serta dinamisme.
Keyakinan dinamisme serta animisme yang tumbuh dalam warga tradisional turut pengaruhi perilaku serta pola pikir warga. Dalam warga tradisional ada pola pikir sekiranya semua suatu selalu terkait dengan energi gaib yang disangka terdapat di dalam alam semesta serta di dekat daerah tinggal mereka. Pola pikir yang demikian ini selalu menghubungkan pristiwa- momen hidup dengan kejadian- kejadian kodrati yang ada di dalam alam semesta maupun kosmos.

Kepada alam semesta maupun kosmos ini warga berlagak lemah serta tak kuasa bertingkah suatu. Demikian pula halnya dengan warga Jawa pada umumnya. Pemikiran serta prinsip semacam ini pengaruhi warga Jawa. Dalam seputar ini warga Jawa amat menjunjung besar kehidupan. Oleh sebab itu mereka berusaha mengamankan hidupnya. Mereka mencari keamanan dalam hidup dengan cara melindungi ikatan yang serasi maupun harmonis dengan sesama, zona serta dunia adikodrati.

Usaha melindungi keselarasan hidup itu menonjol dalam kepercayaan serta kebiasaan, yaitu kebiasaan selametan.
Selametanataupun wilujengan yaitu sesuatu upacara pokok maupun elemen secara khusus dari nyaris semua ritus serta upacara dalam cara religi warga Jawa pada umumnya. Tujuan dari upacara ini yaitu buat minta keselamatan dalam hidup. Warga Jawa yakin sekiranya kebiasaan selametan ini mengatakan jalinan kedekatan antara sesama yang masih hidup, zona serta energi yang terdapat di luar diri manusia. Hidangan buat selamatan antara lain yaitu tumpeng yang komplit dengan lauk pauk serta hiasannya.

Kehidupan orang Jawa amat lekat dengan alam. Mereka siuman sekiranya hidup mereka tergantung dari alam. Banyak pembelajaran yang jadi tanda hidup setiap hari yang mereka ambil dari alam. Mayoritas pemasukan orang Jawa didapatkan dengan bercocok tanam. Dengan banyaknya gunung yang ada di pulau Jawa serta macam tanah vulkanik yang produktif serta total buat bercocok tanam, banyak orang Jawa yang tinggal di dekat kawasan gunung. Mereka menanam padi, sayur- mayur, buah- buahan serta memelihara ternak semacam ayam, bebek, kambing, domba, sapi maupun kerbau. Jadi nyaris seluruh keperluan hidup mereka diperoleh dari tanah di dekat gunung.

  1. Penafsiran Tumpeng
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tumpeng dapat diidentifikasikan bagaikan nasi yang dihidangkan dalam format semacam kerucut buat selamatan. Seandainya itu rasanya definisi tumpeng. Kita pasti tak merasa asing dengan sebutan“ tumpeng”, bukan? Sajian khas ini dapat kita jumpai dalam beragam aktivitas perayaan maupun selamatan bagus di desa- desa maupun di kota- kota besar dalam lingkup pulau Jawa hingga ketika ini. Istiadat kita membaca Selametan dalam Sampai Jawa oleh Koentjaraningrat, kita dapat mengerti sekiranya tumpeng yaitu hidangan dalam kebiasaan maupun upacara selametan. Sampai, boleh dikatakan sekiranya tumpeng pula yaitu sajian yang sakral serta memiliki arti spiritual. Demikianlah tumpeng dipahami. Kedatangan tumpeng dalam kebiasaan selametan pada kebiasaan Jawa berikan arti yang mendalam, demikian juga dalam bagian- bagian tumpeng itu sendiri.

Sampai pembahasan kami dalam paper ini berhubungan dengan arti simbolik dari tumpeng serta bagian- bagian yang umun terdapat di dalamnya.
Nasitumpeng yang berupa kerucut ditempatkan di tengah- tengah serta bermacam-macam lauk pauk dibentuk di sekitar kerucut hal yang demikian. Penempatan nasi serta lauk pauk semacam ini disimbolkan bagaikan gunung serta tanah yang produktif di sekelilingnya.

Tanah di sekitar gunung dipadati dengan beragam berjenis-jenis sayur- mayur dari tumbuh- tumbuhan serta lauk- pauk. Maha semua bagaikan simbol maupun ciri yang berasal dari alam, hasil tanah. Tanah jadi simbol kesejahteraan yang hakiki. Penempatan serta pemilihan lauk- pauk dalam tumpeng pula didasari hendak pengetahuan serta ikatan mereka dengan alam.

Oleh karena seperti itu lauk- pauk ditempatkan di sekitar nasi karena memanglah dari sanalah mereka berasal. Maha cuma penempatannya, pemilihan lauk pula didasari oleh kebijaksanaan yang diperoleh dari belajar dari alam. Tumpeng yaitu simbol ekosistem kehidupan. Kerucut nasi yang melambung besar melambangkan keagungan Ilahi Bagian Bagian Pencipta alam beserta isinya, sebaliknya aneka lauk pauk serta sayur- mayur yaitu simbol dari isi alam ini. Oleh karena itu pemilihan lauk- pauk di dalam tumpeng lazimnya mewakili semua yang terdapat di alam ini

  1. Format- Format yang Universal dalam Nasi TumpengSecara universal bagian yang diaplikasikan dalam tumpeng antara lain nasi( dari beras), sayur- mayur maupun urap- urapan serta lauk- pauk. Nasi yang diaplikasikan bagaikan tumpeng diberi tahu secara khas yaitu diberi tahu dalam format kerucut. Tidak ini yaitu format khas tumpeng. Maha cuma nasi kerucut, bagaikan sajian pengiring pula diberi tahu sayuran serta lauk- pauk. Sayur- mayur yang umumnya diaplikasikan dalam sajian ini antara lain kangkung, bayam serta kacang panjang. Sayur- mayur ini dimasak urap. Sayur- mayur diberi tahu di sekitar nasi tumpeng. Maha cuma sayur bagaikan pengiring nasi tumpeng, lauk- pauk pula turut dan mengiringi sajian nasi tumpeng. Lauk- pauk yang awam diaplikasikan antar lain telor yang direbus serta diberi tahu utuh bersama kulitnya, ikan lele, serta ikan teri yang dimasak dengan cara digoreng dengan tepung semacam rempeyek. Seandainya itu bagian yang terdapat dalam sajian tumpeng.
    Arti Simbolis Nasi tumpeng
  2. Arti Tidak Nasi Tumpeng
    Nasi berupa gunungan maupun kerucut itu sarat hendak arti, lebih- lebih arti spiritual. Gunung dalam banyak kebiasaan serta keyakinan, tercantum Jawa, tak jarang diidentikkan bagaikan daerah yang maha besar, daerah penguasa alam bertahta, serta daerah kemuliaan Allah. Format sejak lama keyakinan ini muncul, seumpama; gunung Sinai, gunung Tabor, Pusuk Buhit, gunung Merapi, serta sebagainya. Asal- muasal format tumpeng ini terdapat dalam mitologi Hindu dalam Epos( cerita) Mahabarata. Sedangkan dikala ini kebanyakan orang Jawa yaitu muslim maupun islam, tapi masih banyak kebiasaan warga yang berpijak pada akar- akar agama Hindu, sebab Hindu lebih dulu masuk ke wilyah Jawa, baru agama- agama lain sesudah itu.

Dalam refleksi selanjutnya, untuk orang Jawa, gunung yaitu daerah yang sakral karena diyakini memiliki kaitan yang erat dengan langit serta surga. Tidak tumpeng yang semacam gunung dalam kebiasaan Jawa memiliki arti mau menempatkan Allah pada posisi puncak, paling tinggi, yang memahami alam serta manusia. Tidak ini pula mau menandakan sekiranya Allah itu dini serta akhir, orang Jawa awam menyebut- Nya dengan Sangkan Paraning Dumadi maksudnya sekiranya Allah yaitu asal semua ciptaan serta tujuan akhir dari semua ciptaan. Tumpeng yang diaplikasikan bagaikan simbolisasi dari watak alam serta manusia yang berasal dari Ilahi serta hendak kembali terhadap- Nya. Perihal  tumpeng pula semacam tangan terkatup, sama semacam ketika seorang menyembah. Maha ini pula mau menandakan sekiranya Allah cocok disembah serta dimuliakan. Tidak menggunung nasi tumpeng pula diandalkan mempunyai keinginan agar hidup kita terus menjadi naik serta beroleh kesejahteraan yang besar.

Dalam kebiasaan selametan orang Jawa, puncak aktivitas yaitu pemotongan komponen atas dari nasi tumpeng. Pemotongan ini lazimnya dicoba oleh orang yang amat dituakan maupun dihormati. Maha ini mau berkata sekiranya warga Jawa masih mengatur teguh skor- skor kekeluargaan serta memperhatikan orang tua bagaikan teladan yang amat dihormati. Sesanti( pepatah) Jawa berkata“ Mikul dhuwur mendhem jero”. Mikul dhuwur maksudnya memikul setingi- tingginya serta mendhem jero maksudnya menanan dalam- dalam. Makna pepatah ini yaitu menghormati orang tua setinggi- tingginya serta menghargai sebaik- bagusnya maupun menghargai sedalam- dalamnya kepada orang lain.; Sehabis itu, nasi tumpeng dimakan bersama- sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur terhadap Ilahi serta sekaligus ungkapan maupun ajaran hidup menimpa kebersamaan serta kerukunan. Terdapat sesanti( pepatah) yang tak asing untuk kita yaitu: mangan ora mangan waton kumpul( makan tak makan yang berarti kumpul). Maha ini tak berarti meski serba kekurangan yang berarti selalu berkumpul dengan sanak kerabat. Penafsiran sesanti hal yang demikian yang mesti yaitu mengutamakan motivasi kebersamaan dalam rumah tangga, proteksi orang tua kepada si kecil- buah hatinya, serta kecintaan terhadap keluarga. Di mana juga orang berlokasi, meski semestinya merantau, haruslah selalu mengingat terhadap keluarganya serta melindungi tali silaturahmi dengan sanak saudaranya.

<p

  1. Arti Dibalik Corak Tumpeng
    Maha cuma dari format, kita pula bisa memperhatikan arti tumpeng dibalik corak nasi tumpeng. Terdapat 2 corak dominan nasi tumpeng yaitu putih serta kuning. Surya kita kembali pada imbas ajaran Hindu yang masih amat kental di Jawa, corak putih diasosiasikan dengan Tidak, Dewa Bagian. Bagian yaitu sumber kehidupan yang sinarnya bercorak putih. Maha cuma itu corak putih di banyak agama melambangkan kesucian. Corak kuning semacam emas melambangkan rezeki, kelimpahan, kemakmuran.

Arti Simbolik Format dalam Tumpeng

  1. Sayuran
    Sayur- mayur yaitu macam menu yang universal diseleksi yang dapat mewakili tanaman darat. Biasanya sayurnya tak diseleksi seperti itu saja karena masing- masing sayur pula mempunyai perlambang tertentu. Sayur- mayur yang universal terdapat yaitu:

Urap

Urap yaitu kelapa parut yang dibumbui buat kombinasi sayur- mayur yang direbus. Kata urap senada dengan urip maupun hidup, maksudnya cakap menghidupi  maupun cakap menafkahi keluarga. Urip berarti pula sumber kehidupan. Sayur- mayur yaitu pralambang dari alam semesta yang berikan kehidupan untuk manusia.

Kangkung

Sayur ini bisa berkembang di air serta di darat, seperti itu pula yang diinginkan pada manusia gampang- mudahan cakap hidup di mana saja serta dalam kondisi apa juga, teguh, ulet serta pantang menyerah. Kangkung sama dengan jinangkung( terbentuk/ tercapai) yang berarti mempunyai keinginan agar apa yang jadi cira- cita bisa tercapai.

Bayam

Bayam mempunyai corak hijau muda yang melegakan serta format daunnya sederhana tak banyak lekukan. Sayur ini melambangkan kehidupan yang ayem tenterem( nyaman serta tentram), tak banyak perselisihan semacam singkatnya format daun serta ademnya corak hijau pada sayur bayam.

Kacang Panjang

Kacang panjang semestinya timbul utuh, tanpa dipotong. Artinya agar manusia sebaiknya selalu berdaya upaya panjang dikala sebelum berperan. Maha cuma itu kacang panjang pula melambangkan umur panjang.

  1. Lauk- Pauk
    a. Ikan Lele

Ikan Lele: dahulu lauk ikan yang diaplikasikan yaitu ikan lele. Ikan lele yaitu macam ikan yang bendung hidup di air yang tak mengalir. Ikan ini pula konsisten hidup di dasar sungai. Arti yang tercantum dalam ikan lele yaitu symbol ketabahan, keuletan dalam hidup, kerendahan hati, serta cakap hidup dalam suasana ekonomi yang amat dasar sekalipun, pula sebaiknya tak sungkan meniti karier dari dasar.

b. Ikan Teri

Biasanya ikan ini hidup di laut serta selalu hidup bergerombol. Ikan teri dialamatkan bagaikan simbol kebersamaan serta simbol kerukuan. Perihal dalam sajian nasi tumpung ikan ini digoreng dengan tepung, terbuat semacam rempeyek. Ikan bergeombol serta tak terpisah- pisah.

c. Telor

Telor direbus serta lazimnya diberi tahu utuh bersama kulitnya, tak dipotong– sehingga, sehingga buat memakannya semestinya dikupas secara khusus dahulu. Maha hal yang demikian mu melambangkan sekiranya semua aksi kita semestinya direncanakan( dikupas), dijalankan sesuai agenda serta dinilai kesudahannya demi kesempurnaan. Piwulang jawa memberi arahan“ Tata, Titi, Titis serta Tatas”, yang berarti etos kerja yang bagus yaitu kerja yang terjadwal , akurat, ideal perhitungan, serta dipecahkan dengan tuntas. Telor pula melambangkan manusia diwujudkan Ilahi dengan derajat yang sama, yang membedakan cumalah watak serta tingkah lakunya.

Bagian- Bagian Tumpeng

  1. Tumpeng Nujuh Bulan
    Tumpeng ini buat syukuran kehamilan di usia tujuhbulan. Diatas tampah yang dialasi dengan daun, Tumpeng nasi putih diletakkan di tengah serta dikelilingi oleh 6 Tupeng kecil- kecil. Maha cuma nasi telur rebus, sayur- mayur serta lauk yang lain menyertai.
  2. Tumpeng Robyong
    Tumpeng ini lazimnya buat upacara siraman pada pernikahan adat Jawa. Tumpeng ini diletakkan dalam bakul dengan aneka sayur- mayur. Memandang puncak diberikan telor ayam, bawang merah, terasi, serta cabai. Di dalam bakul, tak cuma nasi ada pula urap, ikan asin, serta telor ayam rebus.
  3. Tumpeng Nasi Kuning
    Isinya tak beda jauh dengan prasyarat Tumpeng pada umumnya, tapi lazimnya ditambahkan perkedel, kering- keringan, abon, irisan ketimun, serta dadar rawis. Corak kuning mempunyai makna kekayaan serta budi pekerti yang luhur, oleh maka Tumpeng ini awam diaplikasikan buat aktivitas kebahagiaan semacam kelahiran, ulang tahun, khitanan, pertunangan, pernikahan, syukuran serta upacara tolak bala.
  4. Tumpeng Pungkur
    Tumpeng ini terdapat dalam upacara kematian laki- laki maupun perempuan lajang/ belum menikah, ketika jenasah hendak diberangkatkan. Isinya hanya nasi putih yang dihias sayur- mayur di sekitar badan tumpeng. Tumpeng sesudah itu dipotong vertikal serta diletakkan silih membelakangi.
  5. Tumpeng Putih
    Tumpeng putih lazimnya buat aktivitas sakral karena corak putih melambangkan kesucian, tapi pula tak berbeda jauh dengan tumpeng kuning sebab hakekatnya tumpeng kuning yaitu modifikasi dari tumpeng putih. Maha saja, lazimnya tumpeng putih tak mengenakan ayam goreng, tapi ayam ingkung yang kadangkala diiringi bumbu areh. Tumpeng putih pula mengenakan kenal serta tempe bacem, serta ikan asin.
  6. Tumpeng Seremonial maupun Tumpeng Modifikasi
    Tumpeng ini bisa dibilang‘ Tumpeng menyenangi- menyenangi’, karena buat tumpeng yang ini tak mencermati makna filosofi yang tercantum dalam tumpeng. Perihal tumpeng ini menggunakan nasi kuning, nasi goreng serta nasi corak yang lain. buat lauk pauknya bagi selera kita sendiri. Tumeng ini awam terbuat bagaikan sajian masakan. ikatan antara arti dibalik format tumpeng serta corak nasi tumpeng, totalitas arti dari tumpeng ini yaitu pengakuan hendak terdapatnya kuasa yang lebih besar dari manusia( Ilahi), yang memahami alam serta aspek kehidupan manusia, yang menetapkan dini serta akhir, Perihal riil dari pengakuan ini yaitu perilaku penyembahan kepada dimana rasa syukur, pengharapan serta doa dilayangkan kepadaNya biar hidup terus menjadi bagus, menanjak naik serta besar semacam halnya format kemuncak tumpeng itu sendiri.. Jadi tumpeng mempunyai arti religius yang dalam sehingga absensinya jadi sakral dalam upacara- upacara syukuran maupun selamatan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *