October 2, 2022
Hardiknas-Ki-Hajar-Dewantara-dari-putus-sekolah-hingga-mendirikan-perguruan-tinggi-nasional

Apakah mahasiswa atau mahasiswa Indonesia tahu siapa Suwardi Suryaningrat? Pasti agak aneh. Tapi siapa yang tahu Ki Hajar Dewantara?

Tentunya para pelajar dan sebagian besar masyarakat Indonesia mengenal Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional Indonesia, yang juga merupakan pahlawan pendidikan Indonesia.

Sebenarnya Ki Hajar Dewantara dan Suwardi Suryaningrat adalah tokoh yang sama.

Karena Suwardi Suryaningrat adalah nama asli Ki Hajar Dewantara.

Baca juga: Ki Hajar Dewantara sepertinya melihat ke depan, ada kata-kata dasar di masa pandemi ini

Berkat perjuangan dan pemikirannya, hari lahirnya pada tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2021.

Dalam peluncuran website Direktorat Sekolah Menengah Pertama Kementerian Pendidikan

dan Teknologi pada Sabtu (01/05/2021) berikut ini informasi tentang perjuangan dan pemikiran Ki Hajar Dewantara di Hari Pendidikan Nasional 2021.

Meski dikenal sebagai bapak pendidikan Indonesia, tidak banyak orang yang tahu apa perjuangan dan pemikirannya untuk dunia pendidikan di tanah air.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran
Terlahir dari keluarga bangsawan

Raden Mas Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Dia berasal dari keluarga bangsawan.

Ayahnya, Kanjeng Pangeran Ario Suryaningrat, dan ibunya, Raden Ayu Sandiah

, adalah bangsawan di Puro Pakualaman, Yogyakarta.

Terlahir dalam keluarga bangsawan tidak lantas membuat Suwardi Suryaningrat mengabaikan masa depan generasi penerus negeri ini.

Ia menilai kebijakan pemerintah Hindia Timur Belanda sangat diskriminatif terhadap penduduk asli. Karena itu, Suwardi Suryaningrat terus memperjuangkan persamaan hak antara pribumi dan penjajah.
Pernah ke sekolah kedokteran sebelumnya

Berkat kebangsawanannya, Suwardi Suryaningrat berhak bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), sebuah sekolah dasar Belanda.

Setelah lulus dari ELS pada tahun 1904, ia ditawari kesempatan untuk belajar di STOVIA (School tot Opleiding Van Indische Artsen) – Sekolah Kedokteran Jawa di Jakarta.

Kemudian ia menerima tawaran tersebut dan berkesempatan belajar di STOVIA dari tahun 1905 hingga 1910. Namun karena sakit, ia tidak masuk kelas dan beasiswanya dicabut.

Baca juga: Mahasiswa Harus Biasakan Internet, Jangan Abaikan Jejak Digital

Ada bukti bahwa beasiswanya dicabut bukan hanya karena sakit, tetapi karena tuduhan politik oleh pemerintah Hindia Belanda-Timur.

Beberapa hari sebelum beasiswanya dicabut, Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara sebenarnya pernah melantunkan syair yang menggambarkan kewibawaan Ali Basah Sentot Prawirodirdjo, seorang panglima perang Diponegoro.

Diduga pemerintah Hindia Belanda tidak puas dengan sikap Suwardi Suryaningrat yang membangkitkan semangat nasional untuk memberontak. Ia dikenal sangat kritis terhadap pemerintah Hindia Belanda.
Jadilah jurnalis dengan kritik pedas

Meski tidak berhasil menjadi dokter di STOVIA, Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara berubah pikiran sebagai jurnalis dan bergabung dengan berbagai organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo, Sarekat Islam dan Partij India.

Di Indische Partij ia memiliki seorang rekan yaitu Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (dikenal sebagai Danudirja Setiabudi) dan Dr. Cipto Mangunkusumo. Ketiganya disebut sebagai “Triple of Triads”.

Kritik terhadap Suwardi Suryaningrat semakin keras, ia pernah lantang menentang perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda di Indonesia.

Menurutnya, penjajah tidak boleh merayakan kemerdekaan di daerah jajahannya, sekalipun dibiayai oleh masyarakat pribumi.

Dia menyalurkan protes ini melalui sebuah risalah berjudul “Als ik eens Nederlander was” (Seandainya saya seorang Belanda) pada Juli 1913. 5.000 eksemplar risalah ini membuat marah pemerintah Hindia Belanda.
Diasingkan ke Belanda

Kemudian “Tiga Segitiga” dibuang ke Belanda. Suwardi Suryaningrat hidup di tanah rakyat dengan segala keterbatasannya. Dia bertahan hidup dengan menjadi jurnalis untuk surat kabar dan majalah Belanda.

Surat kabar Belanda “Het Volk” dan “De Nieuwe Grone Amsterdamer” yang sangat bersahabat dengan Tiga Serangkai memberikan kesempatan kepada Tiga Serangkai untuk menulis tentang cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia dan menyalurkan pemikirannya.

Berkat pengaruh Tiga Serangkai, perkumpulan mahasiswa Indonesia di Belanda yang tergabung dalam “Indian Vereeniging”, semakin menekankan

LIHAT JUGA :

https://indi4.id/
https://connectindonesia.id/
https://nahdlatululama.id/
https://www.bankjabarbanten.co.id/
https://ipc-hm2020.id/
https://sinergimahadataui.id/